Cerpen: Awas Ada Hantu!


Ilustrasi Cerita (Sumber: Nano Banana Pro)

Di sebuah desa yang bernama Desa Sarijati, hiduplah seorang anak yang bernama Hana. Hana adalah seorang pelajar, ia sudah menduduki bangku SMP. Di Desa Sarijati, banyak anak-anak lain yang seumuran dengan Hana. Mereka berteman baik dan saling menghormati satu sama lain. Setiap hari, mereka selalu bermain bersama.

Pada suatu malam, Hana dan temannya bermain kelereng di lapangan desa. Sudah pukul 19.00, tetapi mereka belum pulang juga. Sepertinya, Hana dan lainnya sudah terlalu asik bermain hingga lupa waktu. Hana melihat jam yang ada di tangannnya, ia sadar, bahwa ini sudah cukup malam.

Hana mengingatkan yang lainnya, bahwa sudah malam dan ini adalah waktu untuk belajar serta beristirahat.

“Ini sudah malam … Kita harus pulang untuk belajar dan tidur,” ucap Hana.

“Tidak mau ah … Aku masih mau main kelereng di sini, lagipula ibuku belum mencariku,” ucap seorang anak laki-laki, yang bernama Riki.

“Aku juga masih mau main sama yang lain Na, kamu kalau mau pulang, ya pulang aja,” lanjut seorang anak perempuan, yang bernama Fifi.

“Aku ikut kamu aja Na, aku mau belajar,” kata seorang anak laki-laki, yang bernama Dika.

“Ya sudah, pulang saja sana!” jawab Riki.

Hana dan Dika memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka meninggalkan Riki dan Fifi di lapangan desa. Di perjalanan pulang, Hana dan Dika bertemu dengan ibu Riki. Tampaknya, ibu Riki sedang kebingungan dan mencari sesuatu. Mereka memutuskan untuk menghampirinya dan bertanya.

“Sedang cari apa Bibi Seli?” tanya Hana.

“Bibi sedang mencari Riki, kalian melihat Riki atau tidak?” tanya Bibi Seli.

“Riki sedang bermain kelereng di lapangan desa dengan Fifi. Kami sudah mengajak mereka untuk pulang, tetapi mereka tidak mau,” jawab Diki.

“Oh… Terima kasih ya, Bibi mau pergi ke lapangan dulu,” ucap Bibi Seli.

Bibi Seli pergi menuju lapangan desa. Lalu, Hana dan Dika, memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Mereka hanya butuh beberapa menit agar bisa sampai di rumah. Sambil berjalan, mereka mendongak menetap bintang-bintang yang ada di langit.

Tak terasa, Hana sudah sampai di depan rumahnya. Lalu ia masuk ke dalam rumah. Rumah Diki berada tepat di samping rumah Hana. Diki juga pergi memasuki rumahnya. Sesampainya di dalam rumah, Hana pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia pergi menuju meja belajar untuk belajar dan mengerjakan tugas. Begitu pula dengan Dika. Setelah selesai belajar dan mengerjakan tugas, Hana dan Dika memutuskan untuk tidur.

Keesokan paginya, Hana bangun pada pukul 05.12, ia bergegas mengambil air wudhu, lalu pergi untuk beribadah. Setelah selesai, ia membereskan tempat tidur, meja belajar, dan rak bukunya. Setelah semuanya rapi, ia bergegas untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.

Pada pukul 06.30, Hana sudah menaiki sepeda untuk pergi ke sekolah. Sekolah Hana tidak terlalu jauh dari rumah. Saat Hana ingin mengayuh sepedanya, ia bertemu dengan Diki. Mereka memutuskan untuk berangkat Bersama. Sesampainnya di sekolah, mereka memasuki kelas. Entah bagaimana, mereka selalu satu kelas dari SD.

Mereka merupakan teman sebangku. Hana dan Dika duku, lalu melepaskan tas mereka.

“Pelajaran sudah mau dimulai, tapi Riki dan Fifi belum datang juga,” ucap Diki.

“Sepertinnya mereka bangun kesiangan Dik,” jawab Hana.

Saat mereka berbicara, tiba-tiba bel masuk berbunyi, namun Riki dan Fifi belum masuk kelas juga. Selang beberapa menit, guru mapel pun masuk. Pelajaran pun sudah dimulai. Saat guru sedang menjelaskan, tiba-tiba Riki dan Fifi memasuki kelas.

“Assalamualaikum, maaf bu, kami terlambat,” ucap Riki dan Fifi bersamaan.

“Kenapa kok terlambat?” Teriak Ibu guru sambal melempar penghapus ke arah Riki dan Fifi.

“Kami bangun kesiangan bu,” jawab mereka.

“Keluar, ibu tidak mau menerima anak pemalas seperti kalian,” ucap Ibu guru.

Akhirnya, Riki dan Fifi keluar dari kelas. Selang beberapa jam, bel istirahat pun berbunyi. Riki dan Fifi memutuskan untuk memasuki kelas. Di dalam kelas, mereka duduk lalu tertidur dengan posisi kepala di atas meja.

“Lihat deh Dik, pasti tadi malam mereka bermain dan tidak mau pulang sebelum puas,” ucap Hana.

“Sepertinya iya Na,” jawab Dika.

15 menit kemudian, bel masuk berbunyi. Para murid pergi menuju ke kelasnya masing-masing. Guru mapel selanjutnya sudah memasuki kelas Hana. Tetapi, Riki dan Fifi belum bangun juga. Pak guru pun memarahi Riki dan Fifi. Mereka pun terbangun dari mimpi indahnya dan meminta maaf kepada bapak guru.

Setelah semua mata pelajaran selesai, dan bel pulang berbunyi. Mereka pergi keluar kelas, lalu mengambil sepeda di parkiran. Setelah menaiki sepeda, mereka pergi menuju rumah. Sesampainya di rumah, Hana menceritakan semuanya kepada sang ibu. Lalu, sang ibu melapor kepada Pak RT. Pak RT pun mengajak para warga untuk bermusyawarah. Para warga setuju untuk menyamar sebagai hantu untuk menakut-nakuti anak-anak. Ini bertujuan agar para anak-anak tidak bermain hingga malam.

“Nanti malam, biar saya dan pak Rahmat yang menyamar sebagai hantu,” ucap Pak RT.

“Baik pak. Nanti malam, kita jadi pocong saja pak RT,” ucap pak Rahmat.

“Wah ide bagus itu pak Rahmat, nanti kita beli kain kafan dulu di warung,” jawab pak RT

“Kita pakai arang saja untuk mewarnai muka kita agar menjadi hitam pak RT,” lanjut pak Rahmat.

Setelah merancang semuanya, pak RT memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu. Pak Rt dan Pak Rahmat pergi ke warung untuk membeli kain kafan dan arang. Setelah semua kebutuhan terpenuhi, mereka pergi menuju rumah pak RT. Karena hari sudah semakin petang, pak RT dan pak Rahmat memutuskan unruk segera berdandan menjadi pocong.

“Wajah saya sudah seram apa belum nih pak RT?” tanya pak Rahmat.

“Wah … Sudah-sudah, kalau saya bagaimana pak Rahmat?” ucap pak RT.

“Sudah seram kok pak,” jawab pak Rahmat.

Setelah semuanya selesai, mereka pergi menuju lapangan desa. Mereka bersembunyi di balik pohon pisang yang ada di sekitar lapangan. Mereka menunggu anak-anak yang akan datang untuk bermain di lapangan. Setelah beberapa saat, dari kejauhan tampak seorang anak-anak yang berlari menuju lapangan.

Mereka berlari sambal membawa wadah berisi kelereng. Sesampainya di lapangan, mereka membuatnya tempat untuk bermain kelereng.

“Mana kelerengmu, sini lawan aku,” ucap salah satu anak.

“Oh … Kamu nantang aku?” lanjut seorang anak lainnya.

“Iya, kenapa? Kamu ga berani ya?” tanya Riki.

“Sombong banget Rik, kan hanya main sama anak kecil,” balas Fifi.

Saat anak-anak berbincang, pak RT dan pak Rahmat pun memutuskan untuk menampakkan diri. Kepala pak RT menampakkan diri dari balik pohon pisang, begitu pula dengan pak Rahmat. Pak RT dan pak Rahmat memutuskan untuk melotot kea rah anak-anak. Setelah beberapa menit, Fifi tidak sengaja melihat ke arah pohon pisang.

Fifi terkejut, ia takut dan berlari munuju rumah. Anak-anak yang lain bingung dengan Fifi.

“Fifi mau kemana? Kok dia lari tanpa bilang sih …” tanya Dika.

“Mungkin dia kebelet ke kamar mandi, kita kan tidak tau,” jawab salah satu anak.

Setelah ada satu anak yang melihat ke arah pohon pisang, ia langsung berteriak dan memberi tau ke anak lain bahwa ada pocong di belakang pohon pisang.

“Po-pocong … Lari, ada pocong dibalik pohon pisang!” Ucap anak itu, sambil berlari menjauh dari lapangan.

Anak lain terkejut, dan melihat kea rah pohon pisang. Setelah mereka melihat ada sosok pocong di balik pohon pisang, mereka berteriak dan berlari menjauh dari lapangan. Setelah semua berlari, pak RT dan pak Rahmat tertawa. Saat tertawa, mereka melihat ke arah belakang. Alangkah terkejutnya, di belakang mereka ada sosok pocong asli.

Pak RT dan pak Rahmat takut, mereka mau berlari menjauhi tempat itu. Sayangnya, ikatan kain kafan di tubuh mereka terlalu ketat. Sehingga,mereka kesusahan untuk berlari. Pak RT sampai mengompol karena takut. Mereka pun memutuskan untuk melepas semua property dan pergi mejauh.

“Lari pak RT!” Ucap pak Rahmat sambal berlari menjauhi tempat pocong itu muncul.

“Saya juga sudah lari, tapi saya tidak bisa lari cepat-cepat,” jawab pak RT.

Setelah berlari beberapa menit, mereka berpapasan dengan para warga yang sedang jaga malam. Mereka pun menghampiri para warga. Sontak para warga terkejut, dan bertanya kepada pak RT.

“Ada apa ini pak RT?” jawab salah satu warga.

“Kami habis ketemu pocong,” Jawab pak RT sambil terengah-engah.

“Jadi pocong bohongan buat nakut-nakutin anak-anak, malah ketemu yang asli,” lanjut pak RT.

Para warga pun tertawa, lalu menyuruh pak RT dan pak Rahmat untuk pulang terlebih dahulu. Sontak pak RT dan pak Rahmat pun pulang. Di perjalanan pulang, mereka bertemu lagi dengan pocong yang ada di lapangan. Mereka pun lari terbirit-birit. Sesampainya di rumah masing-masing, mereka membersihkan muka mereka yang penuh dengan arang.

Keesokan paginya, para warga pun melapor pada pak RT, bahwa anak mereka sudah tidak mau bermain pada malam hari lagi.

“Anak saya sudah tidak mau main malam-malam lagi pak RT, terima kasih ya pak RT,” ucap salah satu orang tua.

“Anak saya juga pak RT, berkat pak RT, anak saya jadi mau belajar dan tidur cepat di rumah,” balas warga lain.

Pak RT dan pak Rahmat pun senang setelah mendengar anak-anak sudah tidak mau bermain di malam hari. Meskipun par RT juga menjadi takut, karena sudah bertemu dengan pocong asli. Tetapi, usaha pak RT dan pak Rahmat tak sia-sia, dan membuahkan hasil. Hari-hari selanjutnya, anak-anak di desa Sarijati tidak pernah bermain di malam hari lagi. Mereka lebih memilih untuk belajar dan tidur cepat setiap harinya. Para orang tua pun senang atas perubahan anaknya. Sekarang, di desa Sarijati, tidak ada anak yang bermain di malam hari lagi.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Awas Ada Hantu!"