Resensi: Selamat Tinggal: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri dan Integritas
Identitas Buku
Judul : Selamat TinggalPenulis : Tere Liye
Penerbit : Sabak Grip Nusantara
Pendahuluan
Dalam novel Selamat Tinggal, Tere Liye mengajak pembaca menelusuri jejak seorang tokoh yang hidup di persimpangan jalan: antara tuntutan ekonomi, tekanan lingkungan, dan panggilan nurani. Sebagai penulis yang dikenal produktif dan kerap mengangkat isu moral, Tere Liye kali ini menyuguhkan narasi yang menyentuh ranah integritas pribadi, kejujuran intelektual, dan perjuangan meninggalkan zona nyaman yang salah.
Dalam novel Selamat Tinggal, Tere Liye mengajak pembaca menelusuri jejak seorang tokoh yang hidup di persimpangan jalan: antara tuntutan ekonomi, tekanan lingkungan, dan panggilan nurani. Sebagai penulis yang dikenal produktif dan kerap mengangkat isu moral, Tere Liye kali ini menyuguhkan narasi yang menyentuh ranah integritas pribadi, kejujuran intelektual, dan perjuangan meninggalkan zona nyaman yang salah.
Sinopsis
Novel ini menceritakan kisah Sintong Tinggal, mahasiswa Sastra yang diam-diam bekerja menjual buku bajakan di sebuah kios kecil demi membiayai hidup dan kuliahnya. Ironisnya, di kelas ia belajar tentang pentingnya menghargai karya intelektual, sementara di luar kelas ia justru melanggar prinsip tersebut. Konflik mulai memuncak ketika ia berhadapan dengan dosennya, pertemuan tak terduga dengan orang-orang dari masa lalu, dan sebuah peristiwa yang memaksanya mempertanyakan kembali makna hidup serta pilihannya. Sintong kemudian memulai perjalanan “selamat tinggal” kepada kebiasaan buruk, relasi toksik, dan masa lalunya, sekaligus menyambut hidup baru yang lebih jujur dan bermakna.
Analisis
Tere Liye meramu tema moral yang berat dengan gaya penceritaan yang mengalir, ringan, dan kadang disisipi humor satir. Karakter Sintong terasa dekat dengan realitas pembaca muda: labil, penuh pembenaran diri, tapi diam-diam rindu akan perubahan. Konflik internalnya terbangun dengan baik, dan pergeseran karakternya terasa meyakinkan.
Tere Liye meramu tema moral yang berat dengan gaya penceritaan yang mengalir, ringan, dan kadang disisipi humor satir. Karakter Sintong terasa dekat dengan realitas pembaca muda: labil, penuh pembenaran diri, tapi diam-diam rindu akan perubahan. Konflik internalnya terbangun dengan baik, dan pergeseran karakternya terasa meyakinkan.
Latar kios buku bajakan menjadi simbol yang cerdas: ruang sempit yang penuh “pengetahuan curian” mencerminkan dilema moral yang menjerat banyak orang dalam sistem yang abu-abu. Penulis juga memberi porsi cukup pada percakapan filosofis dan renungan personal, yang memperdalam makna kisah tanpa terasa menggurui.
Evaluasi
Kekuatan novel ini terletak pada relevansinya. Di tengah maraknya pembajakan buku dan minimnya kesadaran hak cipta, Selamat Tinggal menjadi semacam cermin yang memaksa pembaca melihat praktik keliru yang sering dianggap wajar. Tere Liye berhasil menyampaikan kritik sosial dengan balutan cerita personal yang emosional.
Namun, beberapa bagian terasa repetitif, terutama pada pengulangan nasihat dan monolog internal Sintong yang kadang terlalu eksplisit. Ada juga subplot yang terasa kurang tergarap optimal, sehingga tidak semua tokoh pendukung mendapat ruang berkembang. Meski demikian, kelemahan tersebut tidak mengurangi kekuatan pesan utama: keberanian untuk berkata “selamat tinggal” pada hal-hal yang merugikan diri dan orang lain adalah langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik.
Penutup/Kesimpulan
Selamat Tinggal bukan hanya sebuah kisah peralihan hidup, tetapi juga ajakan refleksi bagi siapa pun yang pernah kompromi terhadap nilai-nilai yang diyakini. Lewat tokoh Sintong, Tere Liye membuktikan bahwa perubahan bukanlah hal instan; ia memerlukan kesadaran, tekad, dan keberanian. Novel ini menyuguhkan bacaan yang menghibur sekaligus memprovokasi pikiran, menjadikannya relevan dibaca oleh generasi muda maupun pembaca dewasa yang tengah menimbang kembali arah hidupnya.
Resensi ini ditulis oleh Fatih Faiz Pratama dan telah diterbitkan dalam buku berjudul Cermin Kata Dari Blora: Antologi Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan yang diterbitkan oleh Perpusnas Press Tahun 2025

Posting Komentar untuk "Resensi: Selamat Tinggal: Sebuah Perjalanan Mencari Jati Diri dan Integritas"