Cerpen: Dunia Penuh Ilusi


Ilustrasi Gambar (Sumber: Nano Banana Pro)

Di suatu malam yang sepi dan sunyi. Angin malam yang dingin dan mencekam membuat bulu kuduk ku merinding. Aku mengendarai motor ku mengelilingi seluruh kota. Sekarang masih belum terlalu malam, hanya pukul 9 malam sekarang. Saat sampai tujuan, aku melihat dari kejauhan rumah yang tak terlalu besar. Aku melewati gerbang dan memarkirkan motorku.  Aku memencet bel dan tak lama kemudian aku berjalan masuk. Aku melihat seorang laki-laki sedang berada di sofa ruang tamu.

“Udah sampai lo Sa?” ucap laki-laki yang berada di sofa tersebut.

Nama ku adalah Angkasa Gelvin Leonard. Umurku sekarang adalah 18 tahun. Lalu, yang bertanya tadi adalah salah satu temanku,Namanya adalah Bintang, sedangkan yang membukakan pintu tadi adalah Langit. Mereka juga berusia 18 tahun dan sekarang aku sedang berada di rumah langit.

“Hmm…,” aku hanya bergumam padanya.

“Jadi main nggak?” ucap langit.

“Iya,” ucap spontan bintang.

Langit dengan cepat membawa PS nya ke ruangan ini. Aku dan bintang langsung mendekati dan memainkan game ini sampai larut malam. Malam sudah sangat larut dan kami masih belum penghentikan game ini.

“Kalian nggak pulang? Ini udah larut banget loh?” Ucap Langit yang menyadari malam sudah larut.

Dengan cepat aku melirik jam yang menempel di dinding. Sudah larut banget.

“Awas lo telat lagi besok” Ucap Bintang yang diangguki Langit.

Aku dengan cepat memberesi bekas sampah makanan yang tadi kami makan dan meninggalkan rumah langit, begitu juga dengan bintang.

***

Aku mengendarai motor ku dengan kecepatan sedang. Angin berhembus dan menyentuh permukaan kulit wajahku. Aku melihat sekitar dan suasananya sangat sepi, hanya beberapa kendaraan yang masih beraktivitas. Aku mengendarai motorku dan sekarang telah sampai di pekarangan rumahku.

Aku memarkirkan motorku dan menuju ke dalam rumah. Aku membuka rumah dan melihat ke dalam dan melihat kondisi rumah. Hanya satu kata. Sepi.

Orang tuaku telah meninggal saat aku berusia 15 tahun. Mereka meninggal karena kecelakaan. Dan rumah ini adalah peninggalan terakhir mereka.

Aku langsung berjalan menuju ke kamarku dan melihat jam yang tertera di dinding kamarku. Aku melihat jam di dinding, pukul 01.00. Sangat larut. Aku mulai menjatuhkan badanku kearah Kasur dan langsung memejamkan mataku. Aku sangat lelah untuk sekarang, semoga hari esok tidak terjadi apa-apa. Aku hanya merasakan perasaan yang tak enak. Setelah beberapa menit, aku menuju ke alam mimpi. Meninggalkan kehidupan dunia untuk sementara.

Malam telah berganti pagi. Suara keras memasuki telingaku. Aku meraba-raba kasurku dan mematikan alarm yang tertera di layar ponselku. Aku melanjutkan tidurku lagi, karena rasa kantuk yang masih terlihat pada wajahku. Setelah beberapa menit aku terbangun dan melihat dengan cepat, pukul 06.45 pagi.

Hahhh?!!!! Aku sudah terlambat. Dengan terburu-buru aku berlari kearah kamar mandi dan dengan cepat menyelesaikannya. Aku dengan cepat memakai seragamku  dengan terburu-buru hingga berantakan. Aku tak memperdulikan hal itu dan segera mengendarai sepeda motorku menuju ke sekolah. Dengan kecepatan penuh aku mengabaikan teriak orang-orang yang menyuruhku pelan.

Pada akhirnya aku tetap terlambat. Aku mendapat omelan yang cukup lama dari guru bimbingan konseling.

“Ck, kamu ini sudah berapa kali terlambat Kasa!! Kalau emang nggak mau sekolah di rumah saja! Kamu minta saja kalu harimu tak akan pernah pagi! Ibu sudah lelah menghukum mu. Sekarang kamu berdiri di depan tiang bendera dan jangan kembali sebelum bel istirahat berbunyi.” Ucap guru perempuan terasebut dengan rasa kesal yang sangat jelas di wajahnya.

Aku hanya pasrah dan akhirnya melaksanakan hukuman tersebut. Hari ini sinar matahari sangat terik, membuat butiran keringat keluar dari pelipisku. Tak lama bel istirahat berbunyi. Aku segera meninggalkan lapangan dan langsung menuju kantin. Sungguh, aku sangat haus. Saat aku sampai aku langsung memesan minuman sekaligus makanan. Dari tadi pagi saja aku tidak sarapan. Huhhh… ku kira tadi aku akan pingsan.

Aku langsung membawa makananku dan membawanya ke salah satu kursi dan mulai memakannya. Tak lama kemudian siswa-siswi mulai berdatangan dan suasana kantin sangat penuh.

“Kasaaaa!!” suara itu menggelegar di seluruh ruangan kantin. Siapalagi kalau bukan Bintang. Bisa ketemu sama anak ini di mana coba.

Langit dan Bintang menghampiriku dengan makanan yang berada di tangan masing-masing. Mereka duduk di meja yang sama denganku.

“Sa, lo dihukum? Pfttt rasain,” suara ejekan keluar dari mulut Bintang yang dilontarkan untukku, pastinya.

“Udah tau masih nanya…,” ucapku dengan kesal.

“Gara-gara semalem?” Suara itu keluar dari mulut Langit.

“Lah? Tadi malam gue juga gitu tapi masih tepat waktu.  Nggak kayak si itu,” suara ejekan dari Bintang menyindirku sembari melihat ke arah ku.

Aku hanya berdecak kesal dan segera menghabiskan makananku. Begitu juga dengan mereka yang berhenti berbicara dan langsung menghabiskan makanan nya. Tak lama bel masuk berbunyi dan aku segera menuju ke kelas. Pelajaran dimulai dan beberapa jam kemudian bel pulang berbunyi. Aku segera beranjak dari kursiku dan berjalan ke arah parkiran meninggalkan area sekolah.

***

Hari-hari terus berjalan seperti biasa dan siklus ini terus berulang-ulang. Namun, hal tak terduga terjadi. Aku bangun seperti biasa dan merasa aneh dengan keadaan sekitar.

“Gelap?” Aku melihat ke arah luar dari jendela kamarku.

Aku menyadari ada yang tak beres sehingga langsung keluar dari rumah. Benar saja, di luar semuanya gelap. Aku melihat jam yang tertera di ponsel ku dan melihat, pukul 07.53. Aku mengingat ucapan guru bk yang memarahiku sebelumnya.

Sampai aku melihat Bintang yang berjalan di depan rumahku. Aku memanggilnya dan dia hanya menoleh dengan tatapan kosong dan terus berjalan menjauh. Aku merasa aneh hingga aku menyusuri kota dan melihat hal yang serupa. Aneh. Hanya itu yang berada di pikiranku. Kota ini menjadi sunyi seperti kota hantu. Dan aku melihat langit dan langsung menghampirinya.

“Langit, kok semua orang di kota ini pada aneh ya? Kamu ngerasain hal yang sama nggak?” tanyaku.

Langit hanya diam tak menanggapi ucapanku dan pergi meninggalkanku. Aku hanya menatap kosong. Ada apa dengan semuanya? Kenapa mereka bertingkah seperti itu? Pikiranku kacau dan rasa takut mulai menjalar di tubuhku. Seluruh tubuhku mulai bergetar.

Aku..takut.jangan seperti ini.

Hingga aku mendengar suara samar yang memasuki telingaku.

Smua hanya ilusi,di dunia ini tak ada yang nyata. Yang pergi pasti tak akan kembali.. Tak lama lagi, satu orang akan kembali”

Aku langsung menoleh ke belakang dan tidak ada apa-apa di sini. Tak lama pengelihatanku mulai kabur dan aku kehilangan kesadaranku.

“Akhhhh!!!” Aku membuka mataku dengan terkejut dan melihat sekitar dengan heran. Aku melihat jendela dan sinar matahari mulai naik. Aku bingung. Apa tadi? Mimpi? Tidak. Itu terlihat sangat nyata.

Aku memasuki sekolah dan melihat dengan penasaran. Masih sama. Tapi aku masih merasa aneh. Aku menceritakan hal semalam pada temanku tapi mereka tak percaya dan hanya mengabaikan ucapanku. Aku hanya diam tak merlanjutkan ucapanku. Pikiranku berkecamuk dan tak nyaman. Rasanya seperti ada yang akan menemuiku.

Bel sekolah berbunyi dan para murid mulai meninggalkan sekolah begitu pula dengan ku. Aku meninggalkan area sekoah dengan sepeda motorku. Aku mengendarai dan menikmati dengan damai. Sampai tiba-tiba dari arah berlawanan aku melihat sebuah kendaraan berupa truk melaju kencang dengan tak beraturan.

Aku menyadari itu dan ingin menghindar. Tapi aku terlambat. Kecelakaan tak bisa di hindarkan. Kecelakaan besar terjadi, tubuhku terlempar beserta sepeda motorku juga terlempar. Darah keluar dari beberapa bagian tubuhku. Sakit… aku merasakan badanku remuk semua.

“Tak lama lagi, satu orang akan kembali

Aku paham dengan suara aneh itu. Ternyata itu aku. Aku hanya tersenyum kecut dan mataku mulai menutup. Mengabaikan suara orang-orang yang mengerubungiku.

Hahh… ibu..ayah.. aku akan bertemu kalian. Kesadaranku menghilang sepenuhnya dan gelap mulai masuk salam penglihatanku.

Cerpen ini adalah karya dari Ines Naswa Aulia

Posting Komentar untuk "Cerpen: Dunia Penuh Ilusi"