Resensi: Menguak Luka, Menyelami Ingatan: "Laut Bercerita" dan Jeritan yang Tak Terdengar
Identitas Buku
|
Judul |
: Laut
Bercerita |
|
Penulis |
: Leila
S. Chudori |
|
Penerbit |
: KPG
(Kepustakaan Populer Gramedia) |
|
Tahun Terbit |
: 2017 |
|
Jumlah Halaman |
: 379 halaman |
|
ISBN |
: 978-602-424-694-5 |
Novel Laut Bercerita hadir sebagai sebuah karya sastra yang tak sekadar menyuguhkan kisah, melainkan juga menghadirkan sejarah yang lama tersembunyi dalam sunyi. Leila S. Chudori dengan piawai meramu fakta dan fiksi, menghadirkan narasi yang menyayat tentang aktivisme mahasiswa, penghilangan paksa, dan luka kolektif bangsa yang belum sepenuhnya sembuh. Buku ini menjadipenting karena mengangkat topik sensitif yang seringkali terpinggirkan dalam diskursus publik Indonesia.
Sinopsis
Laut Bercerita mengisahkan Biru Laut, seorang
aktivis mahasiswa pada akhir
Orde Baru yang bergabung dalam kelompok bawah tanah bernama Winatra. Bersama
rekan-rekannya, Laut menyuarakan keadilan sosial dan melawan tirani kekuasaan.
Namun, perjuangannya harus dibayar mahal. Ia diculik, disiksa, dan menghilang
tanpa jejak. Narasi buku terbagi dua: bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, bagian
kedua melalui mata adiknya, Asmara
Jati, yang mencoba mencari jejak sang kakak dan
puluhan aktivis lainnya yang hilang.
Analisis
Leila S. Chudori dalam Laut Bercerita menyusun narasi yang nyaris
seperti elegi bagi para korban penghilangan paksa era Orde Baru. Ia tidak hanya
menulis dengan indah, tetapi juga menyusun lapis-lapis narasi yang sarat makna
dan kritik sosial-politik. Novel ini merupakan bentuk “fiksi dokumenter”, di
mana realitas sejarah diolah melalui pendekatan sastra yang emosional dan reflektif.
Dari segi struktur, pembagian novel menjadi dua bagian
dengan dua narator berbeda adalah keputusan artistik yang kuat. Bagian pertama
yang dituturkan oleh Biru Laut menyajikan sisi dalam dari seorang aktivis:
idealismenya, kecemasannya,
hingga proses dehumanisasi saat ia menjadi tahanan politik yang disiksa. Leila
dengan cermat menggambarkan penderitaan Laut,
bukan hanya sebagai
penderitaan fisik, tapi juga kehancuran identitas. Kita tidak hanya melihat bagaimana
seseorang "dihilangkan" oleh negara, tetapi juga bagaimana
ingatannya perlahan dilucuti, hingga ia hanya menjadi angka dalam statistik.
Sementara itu, bagian kedua dari sudut pandang Asmara Jati memberikan dimensi penting: suara keluarga yang ditinggalkan. Di sinilah novel ini menampakkan kekuatan moralnya. Leila menunjukkan bahwa penghilangan paksa bukan hanya menghancurkan individu, tapi juga meretakkan struktur sosial: keluarga yang kehilangan kejelasan, masyarakat yang dipaksa bungkam, dan negara yang abai. Asmara menjadi simbol generasi pasca-Orde Baru yang harus memikul beban sejarah yang tidak ia alami langsung, tetapi dampaknya terus terasa.
Bahasa yang digunakan Leila sangat puitis, kadang terasa seperti prosa
liris. Namun, di balik
keindahan kalimat-kalimatnya tersembunyi kepedihan yang brutal. Kontras ini yang justru memperkuat efek emosional novel.
Ia tidak menulis
dengan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan dengan luka yang
membeku—diam, tapi menghujam. Cukup kuat untuk menyampaikan tragedi politik yang begitu keras dan nyata? Kekuatan utama Laut Bercerita
terletak pada keberaniannya menyajikan sejarah
alternatif. Ia bukan sejarah yang ditulis oleh pemenang, melainkan sejarah dari ruang-ruang sunyi, dari mereka yang suaranya ditelan
zaman. Leila menawarkan bukan hanya cerita, tetapi juga pertanyaan—tentang
ingatan, keadilan, dan siapa
yang berhak menulis sejarah.
Evaluasi
Laut Bercerita bukanlah
novel biasa; ia adalah pernyataan politik yang dibalut dengan sensitivitas sastra yang tinggi. Leila S. Chudori
tidak sekadar menulis
kisah fiksi, tetapi merakit
ulang sejarah kelam Indonesia dengan
lensa kemanusiaan yang sangat tajam. Ia mengangkat luka
yang belum sembuh—isu penghilangan paksa aktivis 1997–1998—yang hingga kini masih menggantung tanpa kepastian hukum. Di sinilah kekuatan utama novel
ini: ia berani membuka ruang diskusi tentang memori kolektif yang selama ini
ditekan negara.
Namun demikian, keberanian tersebut dibangun dengan
pendekatan yang tidak serta-merta menuding. Leila justru menggunakan narasi
personal dan intim untuk menggugah simpati pembaca, bukan provokasi murahan. Ia
membiarkan tokoh-tokohnya berbicara melalui surat, dialog hati, dan fragmen
kenangan. Strategi ini berhasil menghindarkan novel dari jebakan agitasi
politik yang kasar, tetapi tetap membawa bobot kritik yang kuat terhadap
praktik kekuasaan yang represif.
Satu catatan kritis lainnya adalah representasi perempuan. Meskipun tokoh seperti Asmara Jati dan Annisa memiliki peran signifikan, narasi tetap terpusat pada pengalaman tokoh laki-laki. Akan sangat menarik jika novel ini memberi ruang lebih luas untuk mengeksplorasi bagaimana kekerasan negara juga menimpa tubuh dan pengalaman perempuan aktivis secara spesifik.
Secara keseluruhan, Laut Bercerita adalah karya yang nyaris paripurna— menggugah secara emosi, kuat secara tema, dan elegan dalam penyampaian. Ia memadukan seni bercerita dengan keberpihakan pada kemanusiaan yang menuntut untuk terus diingat, tidak dilupakan, apalagi disangkal.
Penutup/Kesimpulan
Laut Bercerita adalah kisah tentang keberanian, kehilangan, dan
harapan. Ia menyuarakan yang bisu, memperlihatkan luka yang disembunyikan, dan
mengingatkan kita bahwa
ingatan adalah bentuk
perlawanan. Leila S. Chudori tidak hanya menulis novel; ia membuka ruang
dialog, menggugah nurani,
dan menyemai kesadaran. Di
tengah ingar-bingar zaman, buku ini adalah suara lirih yang menggema lama dalam
benak pembacanya.
Tulisan ini adalah karya dari Rolanda Fadil Nugraha

Posting Komentar untuk "Resensi: Menguak Luka, Menyelami Ingatan: "Laut Bercerita" dan Jeritan yang Tak Terdengar"